Remaja Dalam Hegemoni Internet

Perkembangan ilmu teknologi dan komunikasi dewasa ini telah melebarkan sayap seluas-luasnya sehingga ledakannya pun sudah tidak dapat dihindari lagi, internet apalagi. Pun demikian tak lepas dari banyak perdebatan terkait positif-negatif dalam pengkonsumsiannya. Berbicara mengenai Iptek yang internet sebagai mesin onlinenya, maka harus juga dikaitkan dengan konsumennya yang tidak lain adalah manusia.

Hasil penelitian terbaru mencatat pengguna internet di Indonesia yang berasal dari kalangan anak-anak dan remaja diprediksi mencapai 30 juta. Data tersebut merupakan hasil penelitian berjudul “Keamanan Penggunaan Media Digital pada Anak dan Remaja di Indonesia” yang yang dilakukan lembaga PBB untuk anak-anak, UNICEF, bersama para mitra, termasuk Kementerian Komunikasi dan Informatika dan Universitas Harvard, AS.

Melihat perkembangan tersebut menunjukkan bahwa mayoritas anak-anak dan remaja Indonesia telah maju dalam bidang ilmu komunikasi meliputi internet. Namun di sisi lain pengaruh negatifnya juga sangat besar  yang tidak bisa kita tak acuhkan begitu saja. Semakin ke sini berkembang asumsi bahwa remaja baiknya di dampingi ketika sedang mengakses internet untuk menjaga mereka agar tidak larut bahkan sesat dalam dunia maya tersebut.

Malahan di beberapa sekolah telah memberlakukan sistem e-book  yang mana murid tidak perlu repot-repot membawa buku. Mengapa tidak diadakannya saja buku itu daripada harus menggunakan buku internet (e-book), memang untuk penyederhanaan ini sangat ringkas, tapi juga menambah kemalasan murid untuk mencari informasi, khususnya dalam buku. Walaupun ada mekanisme kontrol dari pihak-pihak tertentu  tetap saja memperluas peluang keinginan mereka terhadap situs-situs baru yang menawarkan.

Menurut saya, sebaiknya pihak sekolah, atau bahkan pemerintah khususnya MENKOMINFO memberlakukan aturan bahwa akses internet bagi siswa dilakukan ketika di laboratorium komputer sekolah saja dan smartphone hanya boleh digunakan ketika di rumah. Ini akan jadi terobosan baru di dunia pendidikan Indonesia. Mengingat prosentase penyelewengan terhadap siswa yang begitu besar. Meskipun dapat di awasi dengan ketat, tetapi apa guna juga siswa di bekali perangkat ponsel sewaktu ke sekolah. Sekolah adalah untuk pendidikan dan hp itu barang baru yang lain soal. Jadi, pisahkan saja antara sekolah dan ponsel.

Submit Your Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *