Inilah Faktor dan Resiko Obesitas

Topik mengenai obesitas selalu menarik untuk dibahas. Hal tersebut teraktualisasi dari banyaknya riset dan pengamatan yang dilakukan oleh para peneliti, ahli dan praktisi dengan latar belakang pengetahuan serta disiplin ilmu yang berbeda. Setiap pemikiran kritis yang muncul selalu dapat menjadi pertanyaan penelitian yang kompleks, sehingga akan terus menerus melahirkan kesimpulan yang baru.

Obesitas secara umum adalah kasus yang selalu dijumpai seiring dengan proses perkembangan jaman sehingga dapat digolongkan sebagai tantangan permasalahan global. Tantangan permasalahan global semacam ini kemudian dapat dipandang sebagai sebuah bentuk pembelajaran untuk menuju sebuah keadaan yang lebih baik. Sifat global dapat diidentifikasi dari penyebaran subjek dengan kasus obesitas di setiap negara, yang mana pengidapnya memiliki latar belakang usia dan keadaan sosial ekonomi yang bervariasi. Oleh karena itu, dalam setiap kasus obesitas sangat memungkinkan bahwa faktor risiko yang telah dialami oleh subjek penderita obesitas adalah berbeda-beda.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, definisi kata faktor adalah hal atau kondisi yang dapat mendorong atau menumbuhkan suatu kegiatan, usaha atau produksi. Sementara risiko adalah probabilitas terjadinya keadaan yang tidak menyenangkan, sedangkan faktor risiko adalah faktor-faktor yang berhubungan dengan peningkatan terjadinya suatu penyakit, sehingga faktor risiko obesitas dapat diartikan sebagai hal pendorong terjadinya keadaan obesitas.

Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa kaum wanita memiliki faktor risiko lebih tinggi pada kasus obesitas dibandingkan kaum pria, “Females were 2.94 times more likely to be obese as compared to males” (Saeed, 2014), salah satu pemicunya adalah ketidakstabilan emosi yang dapat menyebabkan ketidakseimbangan energi dalam tubuh. Selain itu, status perkawinan juga memengaruhi statistik kasus obesitas. Sebuah hasil penelitian membuktikan bahwa orang yang sudah menikah mengalami pertambahan jumlah lemak secara signifikan oleh karena perubahan gaya hidup.

Pada prinsipnya, obesitas terjadi manakala tubuh menerima lebih banyak kalori dari yang seharusnya dikeluarkan. Gaya hidup sendentari memiliki peran yang sangat besar dalam kasus obesitas. Ketika seseorang mempraktekkan gaya hidup sendentari, “aktivitas fisik yang kurang, menyebabkan simpanan energi yang semakin berlebih dalam tubuh” (Purwaningrum, Hadi, Gunawan, 2012). Proses pembakaran energi menjadi minimalis sehingga kelebihan energi akan disimpan di dalam sel-sel lemak di bawah kulit dan kemudian menambah massa tubuh.

Sebuah penelitian membuktikan bahwa masyarakat urban memiliki prevalensi obesitas yang lebih tinggi dibandingkan masyarakat rural. Hal ini dipengaruhi oleh kemudahan akses dalam mendapatkan fast food dan junk food di daerah urban daripada daerah rural. Masyarakat yang hidup di daerah urban rata-rata memiliki kebiasaan mengonsumsi fast food dan junk food lebih dari dua kali dalam satu pekan.

Tingkatan pengetahuan dan pendidikan pun memiliki pengaruh dalam membentuk faktor risiko obesitas. Semakin rendah tingkat pendidikan seseorang, maka semakin rendah pengetahuan tentang perlakuan hidup sehat, termasuk dalam pencegahan dan penanganan obesitas.

Submit Your Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *